IMG_0915

Mukhamad Misbakhun
Anggota Komisi XI DPR RI

Perayaan Idul Fitri tidak sekedar dimaknai sebagai salah satu ritual besar dalam tradisi keislaman. Lebaran juga tergambar sebagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang menyisakan fenomena ekonomi yang cukup signifikan. Betapa tidak, bahkan sejak awal dimulainya ibadah puasa, aktivitas ekonomi mengalami pergerakan, merangkak naik hingga membumbung menjelang lebaran.

Ritualitas keagamaan telah terkemas secara komersial. Perayaan kesuksesan dalam menjalani ujian puasa diiringi hiruk-pikuk ekonomi transaksional. Pada gilirannya, kebutuhan mengalami peningkatan seiring dengan penyebaran dana di masyarakat. Faktor sosio-kultural telah mempengaruhi peningkatan konsumsi, dimana lebaran menjadi variabel penting penggerak ekonomi.

Potensi Pertumbuhan
Secara teoritis, geliat ekonomi dipengaruhi oleh tingkat pendapatan masyarakat. Momentum Idul Fitri terkonversi dalam laku sosio-kultural sekaligus kebijakan yang berimplikasi pada pendapatan ekonomi. Beberapa implikasi tersebut bisa dilihat dari berbagai aspek.

Pertama, kebijakan pemerintah. Kenaikan harga direspons dengan kebijakan pembayaran gaji ke 13 bagi Pegawai Negeri Sipil, Polri dan TNI. Pihak swasta dan elemen masyarakat pun tidak lupa berkontribusi dalam pemberian Tunjangan Hari Raya (THR). Libur kerja, cuti lebaran serta liburan sekolah juga menambah potensi transaksi.

Kedua, penyebaran dana. Bank Indonesia telah mengantisipasi kemungkinan penyebaran dengan langkah positif berupa penyediaan uang tunai sebesar Rp125 triliun, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp118 triliun (14,7 persen setiap tahun). Angka ini menunjukkan tingginya daya konsumsi masyarakat yang ditandai dengan adanya lonjakan permintaan sejak awal Ramadhan di berbagai sektor.

Ketiga, redistribusi pendapatan. Kementerian Perhubungan telah memperkirakan jumlah pemudik 2015 mencapai 20.002.724 jiwa. Angka ini meningkat 1,96 persen (19.618.530 jiwa) dari tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah tersebut menyebar di seluruh moda transportasi. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada moda transportasi Kereta Api. Kemenhub juga memprediksi penggunaan sepeda motor pada mudik Lebaran 2015 meningkat dari tahun lalu. Masyarakat masih menganggap kendaraan roda dua lebih praktis dan ekonomis.

Aspek transportasi berjalin erat dengan tradisi mudik tahunan. Mudik tidak hanya mempertemukan masyarakat dari keterpisahan, namun juga menjadi ajang perputaran ekonomi itu sendiri. Sentra-sentra ekonomi terbesar di pusat-pusat pemerintahan, industri dan perdagangan menyalurkan transaksi di segenap wilayah di seluruh Indonesia.

Aktivitas mudik serta arus balik secara langsung menciptakan perputaran uang yang begitu besar dan cepat (velocity of money). Bank Indonesia memprediksi sebaran uang tunaitertinggi terjadi di Pulau Jawa, kecuali Jakarta, sebesar 32%, diikuti Kota Jakarta (29%), Sumatera (20%), Bali dan Nusa Tenggara (11%), serta Kalimantan (8%).

Meskipun data BI menunjukan sebaran uang tunai periode Ramadhan dan hari raya Idul Fitri tahun ini masih didominasi oleh wilayah-wilayah di Pulau Jawa, namun mudik lebaran tetap berkontribusi dalam menciptakan redistribusi pendapatan ke daerah-daerah. Dengan adanya redistribusi pendapatan, idealnya mudik dapat menimbulkan multiplier effect bagi keseimbangan pembangunan kota-daerah melalui pertumbuhan investasi dan pembangunan di daerah.

Kiranya, redistribusi juga menjadi bahan untuk menjawab persoalan ketimpangan distribusi pendapatan. Meski pemerintah sejauh ini telah berupaya keras mendorong investasi di daerah serta mendukung terciptanya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, namun warisan model pembangunan yang terlalu terkonsentrasi pada kota yang berdampak pada konsentrasi tenaga kerja dan penduduk.

Maksimalisasi potensi tersebut di atas tentu saja memiliki dampak signifikan. Paling tidak, memicu gairah ekonomi di tengah kelesuan pertumbuhan menjelang kuartal II 2015. Kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh pihak pemerintah maupun pihak swasta telah memberi efek yang besar, meski cenderung sesaat. Namun, dalam suasana ekonomi yang sedang tertekan, kekuatan-kekuatan yang berada di balik krisis menjadi termaksimalkan.

Distribusi dan Ketersediaan Pasokan
Momentum Ramadhan dan Idul Fitri telah diantisipasi dengan baik oleh pemerintah, dengan memastikan ketersediaan pasokan kebutuhan masyarakat. Pemerintah melakukan pemantauan harga di tingkat masyarakat, operasi pasar serta sejumlah kebijakan dalam pengendalian harga kebutuhan pokok. Sejauh ini, upaya tersebut cukup berhasil, terutama bila mengacu pada trend kenaikan harga sejumlah bahan pokok yang relatif stabil dan tidak terlalu bergejolak.

Kementerian Perdagangan, misalnya, telah melakukan antisipasi dengan menekan harga daging sapi agar tak melambung tinggi. Salah satunya dengan dengan mengeluarkan izin impor 29 ribu ekor sapi siap potong untuk menstabilkan harga daging selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Dukungan dari sisi regulasi juga turut membantu dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Meski pada awalnya mengundang keraguan, sejauh ini mampu mengendalikan gejolak harga selama bulan Ramadhan.

Karena itu, tindak lanjut upaya tersebut harus dibarengi dengan upaya monitoring dan pengendalian kelancaran distribusi maupun ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok, sehingga potensi kenaikan harga akibat tersendatnya distribusi dapat dicegah. Untuk tujuan ini, pemerintah sebaiknya memastikan seluruh jajarannya baik di pusat dan daerah mampu berkoordinasi dengan para pelaku usaha dalam menjaga kelancaran pasokan.

Tantangan terbesar dari semua ini adalah bagaimana potensi-potensi ekonomi tersebut juga memberi manfaat dan nilai tambah yang jauh lebih besar, melampaui kencenderungan dan geliat sesaat. Tradisi mudik diharapkan tidak hanya menjadi ajang konsumerisme serta pamer keberhasilan yang pada akhirnya justru memacu peningkatan urbanisasi. Untuk itu, diperlukan kesadaran semua pihak agar tradisi mudik dapat dimanfaatkan sebagai momentum pembangunan daerah.

Dengan demikian, kita dapat memanfaatkan situasi ekonomi saat ini dengan mencari celah-celah dari kekuatan ekonomi masyarakat yang tersembunyi. Ajang pertemuan dengan sanak keluarga dan masyarakat lokal bisa menghasilkan terobosan-terobosan ekonomi baru yang bersumber dari potensi-potensi kedaerahan masing-masing. Seperti halnya dengan menghimpun remitensi dalam bentuk uang, barang atau modal kerja. Sehingga paradigma ekonomi di daerah bisa lebih menjanjikan, ketimbang sekedar berharap pada sentra-sentra ekonomi di perkotaan.

Kita berharap, momentum religiusitas mampu berdampak pada kehidupan riil masyarakat. Secara khusus, pemerintah dapat memanfaatkan situasi ini sebagai pendorong dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi 2015, agar target dalam APBN-P 2015 sebesar 5,7 persen dapat tercapai. Pada akhirnya, Bulan Ramadhan akan membawa berkah, tidak hanya berbuah ganjaran pahala bagi diri pribadi, tapi juga bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Selamat Merayakan Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Dimuat di Harian Jawa Pos, Senin 13 Juli 2015

LEAVE A REPLY