Kota Pasuruan

2-batas-admin-pasuruan

Profil Kota Pasuruan
Kota Pasuruan yang terletak pada 7o 35’ – 7o Lintang Selatan dan 45’ – 112o 55’ Bujur Timur merupakan salah satu daerah tingkat II di Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 4 meter di atas permukaan laut yang dibatasi oleh wilayah Kabupaten Pasuruan kecuali di sebelah Utara yang berbatasan dengan Selat Madura.

Secara administratif, Kota Pasuruan terbagi menjadi 4 kecamatan dengan luas 35.29 km2. Empat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Gadingrejo, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Bugul Kidul dan Kecamatan Panggungrejo.

kecc

Penduduk kota Pasuruan yang mayoritas beragam Islam, terdiri dari beberapa etnis, dengan berbagai macam mata pencaharian antara lain, nelayan, pedagang, Pegawai dan beberapa sektor non formal.

Sejarah Kota
Tahun 1671 – 1686 Pasuruan dibawah pemerintahan Bupati Onggo Djojo yang berasal dari keturunan Kyai Brondong, yang kemudian mendapatkan perlawanan dari Untung Suropati, sehingga melarikan diri ke Kota Surabaya. Tahun 1686 – 1706 Pasuruan dibawah pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro. Tahun 1706 akhir kekuasaannya menghadapi perang melawan VOC di Bangil dan beliau mengalami luka berat hingga meninggal, sampai saat ini makamnya tidak diketahui tempatnya, namun bias diketahui adanya petilasan berupa gua sebagai tempat persembunyiannya sewaktu dikejar tentara VOC di pedukuhan mancilan Desa Pohjentrek Kecamatan Purworejo Kota Pasuruan. Tahun 1706 – 1743 Putera Djoko Untung Suropati yang bernama Rahmat menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan perjuangannya sampai gugur dalam pertempuran melawan VOC . Tahun 1743 Darmoyudo IV bernama Wongso Negoro Niti Negoro sebagai pengganti Rahmat, sejak itu VOC dapat menguasai pantai utara pulau Jawa termasuk Pasuruan. VOC menganggap Kota PAsuruan sebagai Kota Bandar karena keberadaan pelabuhannya untuk sarana transportasi perdagangan, akhirnya Belanda mengadakan kegiatan perekomonian dengan mendirikan pabrik gula disekitar Pasuruan. Bukti lain menyebutkan bahwa sejarah Kota Pasuruan dianggap penting oleh Ahli Belanda dengan dibentuknya Staatgementee Van Pasuruan pada Juli 1916 dan ditetapkannya sebagai Pelabuhan Pasuruan sejak tahun 1926 stbl.1926 Nomor 521 dengan perubahan Stbl 1926 nomor 426. Tanggal 14 Agustus 1950 menjadi daerah Otonom yang terdiri dari 19 Desa dalam 1 Kecamatan Tanggal 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa.

Geografi
KEADAAN GEOGRAFIS
1. Letak Geografis
Kota Pasuruan yang terletak pada 7o 35’ – 7o Lintang Selatan dan 45’ – 112o 55’ Bujur Timur merupakan salah satu daerah tingkat II di Provinsi Jawa Timur. Wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 4 meter di atas permukaan laut yang dibatasi oleh wilayah Kabupaten Pasuruan kecuali di sebelah Utara yang berbatasan dengan Selat Madura
Secara administratif, Kota Pasuruan terbagi menjadi 4 kecamatan dengan luas 35.29 km2. Empat kecamatan tersebut adalah Kecamatan Gadingrejo, Kecamatan Purworejo, Kecamatan Bugul Kidul dan Kecamatan Panggungrejo.

Seperti halnya wilayah lain di Pulau Jawa, Kota pasuruan yang memiliki 34 kelurahan juga dilewati oleh banyak sungai. Meskipun tidak selebar sungai di daerah lain di Jawa Timur, keberadaannya telah mampu menunjang sektor pertanian.

Tinggi rata-rata wilayah kota Pasuruan yang hanya 4 meter dari permukaan laut menyebabkan kota ini rawan terkena banjir di musim penghujan. Selain itu, kerawanan banjir juga disebabkan oleh wilayah kota ini yang mempunyai kemiringan 0 – 3 % dimana sebagian adalah berupa cekungan.

2. Iklim
Wilayah Kota pasuruan, seperti halnya wilayah lain di Pulau Jawa, memiliki iklim tropik basah yang dipengaruhi angin monsun Barat dan Timur. Angin monsun barat dan timur menyebabkan terjadinya dua musim, musim hujan dan kemarau.

Peta-Pasuruan2

I. Kecamatan Gadingrejo
Kelurahan Krapyakrejo
Kelurahan Bukir
Kelurahan Sebani
Kelurahan Gentong
Kelurahan Gadingrejo
Kelurahan Randusari
Kelurahan Karangketug
Kelurahan Petahunan

II. Kecamatan Purworejo
Kelurahan Pohjentrek
Kelurahan Wirogunan
Kelurahan Tembokrejo
Kelurahan Purutrejo
Kelurahan Kebonagung
Kelurahan Purworejo
Kelurahan Sekargadung

III. Kecamatan Bugul Kidul
Kelurahan Bakalan
Kelurahan Krampyangan
Kelurahan Blandongan
Kelurahan Kepel
Kelurahan Bugul Kidul
Kelurahan Tapaan

IV. Kecamatan Panggungrejo
Kelurahan Ngemplakrejo
Kelurahan Mayangan
Kelurahan Trajeng
Kelurahan Bangilan
Kelurahan Kebonsari
Kelurahan Karanganyar
Kelurahan Kandangsapi
Kelurahan Pekuncen
Kelurahan Panggungrejo
Kelurahan Mandaranrejo
Kelurahan Tambaan
Kelurahan Petamanan
Kelurahan Bugul Lor

Demografi
Masyarakat Kota Pasuruan tergolong heterogen terdiri dari beragam etnis. Empat etnis yang mendominasi adalah Jawa, Madura, Tionghoa dan Arab. Etnis Madura lebih banyak mendiami wilayah utara Pasuruan, sedangkan tiga ethis lainnya tersebar di bagian tengah perkotaan. Heterogenitas masyarakatnya tidak lepas dari keberadaan pelabuhan yang menarik minat orang untuk datang dan kemudian tinggal di Kota Pasuruan. Mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Meskipun terdiri dari multi etnis, namun hubungan masing-masing orang berjalan harmonis. Saat ini jumlah penduduk Kota Pasuruan mencapai 208.077 jiwa (per tanggal 5 Nopember 2012 :Sumber Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil), dengan komposisi penduduk Laki-laki sebanyak 104.066 jiwa dan penduduk Perempuan 103.357 jiwa.

data-kec

Kebudayaan

110Seni dan Budaya Kentalnya nuansa islam di Kota Pasuruan sedikit banyak membawa pengaruh pada perkembangan seni dan budaya. Diantara pertunjukan seni yang tumbuh subur di tengah masyarakat adalah Hadrah. Hampir di setiap kelurahan dapat dengan mudah di jumpai kelompok masyarakat penggiat kesenian bernuansa islam ini. Kesenian ini juga selalu ditampilkan sebagai hiburan pada acara-acara pemerintahan

212Tari Terbang Bandung kesenian khas Pasuruan semacam opera, gabungan drama tari dan musik. Terdiri dari dua orang penabuh ketipung (kendang), satu orang penabuh jidor (bedug keci) dan empat orang penabuh terbang (rebana berukuran medium) sekaligus penari. Durasi penampilan sekitar 10 menit.

Untuk syair-syair lagu yang dimainkan kebanyakan bercerita tentang Hasan-Husein, Fajar Shodiq, Fatimah dan lain sebagainya. Kesenian ini semakin lama semakin langka di jumpai karena minimnya regenerasi

35Pencak Silat Kuntu Mancilan merupakan seni bela diri yang sudah berkembang sejak jaman pemerintahan Belanda di Indonesia. Kekhasan dari seni bela diri ini adalah pendekarnya tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi berusaha mengisinya dengan berbagai ilmu kanuragan.